Pengertian Break Event Point

Pengertian Break Event Point dalam Ilmu Bisnis dan Ekonomi

Pengertian Break Event PointBagi pelaku bisnis pasti sudah tahu pengertian Break Event Point. Sebuah istilah yang sering kali digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan. Break Event Point dikenal juga dengan istilah BEP. Dapat dikatakan, BEP menjadi hal yang sangat penting bagi sebuah perusahaan. Hanya dengan melihat history BEP, kamu bisa melihat kondisi keseluruhan dari perusahaan. 

BEP atau Break Event Point didapat dengan cara menghitung pendapatan yang masuk dikurangi dengan modal awal. Dalam kondisi BEP tak akan ditemukan selisih. Atau kamu akan menemukan titik nol ketika mencari selisih antara pendapatan dan modal yang harus dikeluarkan. Istilah umum yang digunakan agar lebih mudah dipahami adalah BEP sama dengan Balik Modal. 

Pengertian Break Event Point

Jika kamu mencari pengertian Break Event Point, ada banyak penjelasan yang bisa kamu dapat. Salah satunya dari wikipedia. Kamus online ini menerangkan bahwa Break Event Point adalah keadaan di mana tingkat penjualan atau pendapatan yang diperoleh dan modal yang dipergunakan untuk menghasilkan lama berada pada posisi yang sama.

Ada istilah yang digunakan agar mempermudah gambaran. Yaitu titik impas. Ketika ditemukan titik impas saat menghitung selisih antara pendapatan dan modal, maka itulah yang disebut dengan BEP atau Break Event Point. 

Dengan kata lain, kamu harus sampai di titik nol selisih agar mendapatkan BEP. Seperti yang tercantum dalam pengertian  Break Even Point. Tidak ada kerugian maupun keuntungan yang diperoleh. 

Ada beberapa komponen yang perlu dihitung saat mencari titik impas tersebut. Yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Kedua komponen ini yang nantinya akan menjadi impas apakah perusahaan mengalami kerugian atau mendapatkan keuntungan. 

Untuk mendapatkan BEP, kamu hanya perlu mendapatkan nilai impas. Artinya biaya tetap penjualan hanya mampu menutup jumlah biaya tetap dan variabel produksi. 

Komponen Penyusun dalam Menghitung BEP atau Break Event Point

Salah satu pentingnya menghitung BEP adalah untuk mengetahui apakah dalam produksi kali ini kamu merugi atau mendapatkan keuntungan. Ketika jumlah penjualan lebih besar dari biaya tetap dan variabel modal awal, maka artinya kamu mendapatkan keuntungan. 

Sebaliknya, ketika jumlah penjualan lebih kecil dari biaya tetap dan variabel modal produksi, maka artinya kamu mengalami kerugian. Dan saat biaya penjualan sama dengan biaya modal artinya impas atau BEP. 

Baca Juga:  Pengertian Likuiditas Dan Kepentingannya Bagi Perusahaan

Tak heran jika pengertian Break Event Point juga dikenal dengan istilah balik modal. Ada cara khusus untuk menghitungnya. Sebelum mengetahui cara menghitung BEP baiknya, kamu mengenali beberapa istilah komponen yang akan berpengaruh dalam penghitungan BEP. 

Ada lima komponen utama yang digunakan untuk menghitung BEP. Yaitu Biaya Tetap (fix cost), Biaya Variabel (Variable Cost), Biaya Campuran ( Mix Cost), Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Margin Laba. Untuk lebih jelasnya, kamu bisa simak penjelasan sederhana berikut ini.

Baca juga : Perbedaan Keuangan dan Akuntansi

Biaya Tetap meliputi berbagai pengeluaran tetap yang wajib digelontorkan oleh perusahaan. Meliputi biaya perawatan tempat usaha, transportasi, jasa dan lain sebagainya. 

Biaya Variabel adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan yang berkaitan dengan jumlah produksi. Seperti bahan baku, tenaga kerja, peralatan dan lain sebagainya. 

Biaya Campuran ialah biaya yang meliputi keduanya. Jumlah biaya campuran ini tergantung jumlah barang yang diproduksi. Semakin besar jumlah barang yang diproduksi, maka jumlah biaya campuran yang harus dikeluarkan juga semakin besar. Sebagai contoh biaya listrik dan air. 

Harga Pokok Penjualan atau juga dikenal dengan HPP merupakan nilai akhir yang akan ditentukan setelah mengetahui jumlah biaya tetap, variabel dan campuran. HPP ini yang nantinya harus menemukan titik impas agar mencapai titik Break Event Point. 

Margin Laba ialah komponen terakhir yang dihitung setelah menentukan BEP. Jumlahnya terserah dengan produsen. Yang jelas, setelah menentukan Margin Laba, maka nilai jual suatu barang sudah bisa dipastikan. 

Komponen Pendukung Meningkatnya Break Even Point

Setelah kamu mengetahui pengertian Break Event Point, saatnya kamu mengetahui lebih lanjut tentang beberapa komponen yang bisa mendongkrak BEP. Komponen-komponen berikut ini nantinya yang bisa menjadi penentu apakah produksi barang sudah sesuai target yang ditentukan? 

Berikut adalah beberapa komponen yang bisa mendukung peningkatan  Break Event Point. 

Jumlah Penjualan

Sudah tak asing lagi, salah satu hal yang paling diharapkan dari sebuah bisnis adalah meningkatnya jumlah penjualan. Semakin besar jumlah barang yang berhasil dijual, tentu akan sangat mempengaruhi jumlah pendapatan. 

Seperti yang diketahui dalam pengertian Break Event Point, untuk mendapatkan titik impas atau BEP perlu adanya nilai seimbang antara pendapatan dan modal. Maka ketika jumlah penjualan barang, secara otomatis akan turut mendongkrak BEP. 

Biaya Produksi

Apa saja yang termasuk dalam biaya produksi? Bisa yang terkait dengan produk, bisa juga yang berkaitan dengan fasilitas penunjang.  Atau dalam dunia usaha dikenal dengan biaya tetap dan biaya variabel. Keduanya merupakan elemen yang digunakan dalam menghitung Break Even Point atau BEP. 

Baca Juga:  Yuk Cari Tahu! Ini Perbedaan Keuangan dan Akuntansi Yang Perlu Kamu Pahami

Baca juga : Tips Aman Bertransaksi Melalui Internet Banking

Kenaikan harga bahan baku hingga biaya sewa gedung dapat berpengaruh kepada naiknya biaya produksi. Dengan begitu juga dapat membuat Break Event Point  meningkat. 

Biaya Perawatan Alat Produksi

Proses produksi suatu produk membutuhkan alat. Apabila alat mengalami kerusakan tentu proses produksi akan terhambat. Untuk mengatasinya diperlukan alokasi dana khusus untuk merawat mesin atau alat produksi. 

Sayangnya seringkali ada saja kendala yang terjadi di luar prediksi. Contohnya kerusakan pada alat produksi. 

Ini artinya perusahaan harus mengeluarkan dana tambahan untuk memperbaiki kerusakan alat tersebut. Atau untuk mengganti alat produksi baru yang lebih baik. Biaya ini bisa masuk ke dalam biaya perawatan alat produksi. 

Tujuan Menghitung Break Event Point bagi Setiap Usaha atau Bisnis

Tujuan menghitung BEP tak bisa dilepaskan dari pengertian Break Event Point. Yaitu untuk mendapatkan titik nol antara modal dan pendapatan. Karena proses ini yang nantinya akan membawa kepada penentuan harga barang setelah penambahan margin laba. 

Namun nyatanya masih ada tujuan lainnya. Yang pertama adalah untuk menentukan biaya produksi. Untuk menghitung BEP, kamu harus mengetahu secara jelas tentang semua biaya yang mencakup produksi barang. Ini meliputi biaya tetap, biaya variabel dan biaya campuran. 

Yang ke dua, tujuan dari menghitung Break Event Point  adalah untuk menghitung Margin Laba. Ya, laba menjadi orientasi utama dari setiap bisnis. Dengan mengetahui jumlah  Break Even Point  maka kamu akan tahu tolak ukur dalam menentukan profit atau laba yang kamu kehendaki. 

Yang terakhir, menghitung  Break Event Point  juga dapat menjadi acuan perhitungan waktu balik modal. Terutama bagi kamu yang baru mulai usaha. Menghitung BEP secara rutin akan mempermudah kamu dalam melakukan pengawasan internal. 

Kamu akan memperoleh informasi terkait jumlah produk yang terjual, kerugian atau keuntungan dan peningkatan jumlah produksi yang diperlukan. Selain itu kamu juga bisa memperkirakan, kapan kira-kira kamu bisa balik modal. 

Pengertian Break Event Point tak bisa lepas dari manfaatnya dalam membangun dan membangun sebuah bisnis. Karena dengan konsistensi BEP kamu bisa memiliki peluang yang lebih besar untuk melakukan ekspansi. Karena BEP yang ‘sehat’ menjadi tolak ukur investor untuk ikut bekerja sama. 

5/5 - (1 vote)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Scroll to Top